BREAKING NEWS

Watsapp

Showing posts with label 2022. Show all posts
Showing posts with label 2022. Show all posts

Monday, March 16, 2026

HUKUM MEMBAYAR ZAKAT FITRI MELALUI APLIKASI

 

*Hukum membayar Zakat Fitri Melalui Aplikasi*

Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan keagamaan, termasuk praktik penunaian zakat fitrah. 

Jika pada masa lalu masyarakat menjelang Idulfitri identik dengan membawa beras ke masjid atau musala, kini kewajiban tersebut dapat ditunaikan melalui aplikasi digital. Dengan beberapa langkah sederhana melalui gawai, zakat fitrah dapat dibayarkan tanpa kehadiran fisik.   


Dalam praktiknya, sejumlah platform digital yang dikelola lembaga resmi telah menyediakan sistem pembayaran zakat yang terstruktur. Salah satunya adalah NU Online melalui lembaga amil zakat NU Care-LAZISNU. 


Melalui sistem ini, muzakki tidak lagi dibebani perhitungan teknis terkait takaran dan harga beras di pasaran. Aplikasi telah menyediakan fitur perhitungan otomatis berdasarkan standar harga beras terkini.   Muzakki cukup memilih menu zakat fitrah, memasukkan jumlah jiwa yang dizakati, kemudian sistem akan mengonversinya ke dalam nominal uang yang setara. 


Pembayaran selanjutnya dilakukan melalui berbagai kanal nontunai, seperti transfer bank atau dompet digital. 


Mekanisme ini menawarkan kemudahan, efisiensi waktu, serta transparansi pengelolaan dana.


Perkembangan ini membuka diskursus baru terkait fiqih zakat. 

Apakah sistem pembayaran zakat melalui aplikasi hukumnya sah? Tulisan ini hadir untuk mengurai sistem pembayaran zakat fitrah tersebut secara komprehensif.   


Pembayaran zakat melalui aplikasi sejatinya bentuk mewakilkan zakat. Aplikasi yang dikelola oleh lembaga amil zakat bertindak sebagai wakil yang menerima amanah dari pemberi zakat (muzakki) untuk menyalurkan zakat tersebut kepada yang berhak (mustahik).   


Dalam konteks ini, keabsahan zakat bergantung pada terpenuhinya niat pada saat penyerahan zakat kepada wakil. 


Niat tersebut dapat dilakukan ketika proses pembayaran berlangsung, baik saat menekan tombol pembayaran maupun ketika dana ditransfer. 

Ketentuan ini ditegaskan oleh Syekh Mahfudz Termas dalam Hasyiah at-Tasmasi: 


 الْحَاصِلُ أَنَّهُ يَجُوزُ تَقْدِيمُ النِّيَّةِ عِنْدَ إقْرَارِ الزَّكَاةِ أَوْ مَعَهُ أَوْ عِنْدَ إعْطَائِهَا الْوَكِيلَ أَوْ عِنْدَ تَفْرِيقِهِ


Artinya, “Kesimpulannya niat boleh dilakukan saat menetapkan kewajiban zakat, atau bersamaan dengannya, atau saat menyerahkan zakat kepada wakil, atau memisahnya,” (Syekh Mahfudz Termas, Hasyiah at-Tasmasi, [Jeddah, Darul Minhaj: 2021], jilid V, halaman 31).   


Praktik zakat melalui aplikasi secara otomatis menggunakan instrumen uang, bukan beras secara fisik di tangan muzakki. Meskipun mayoritas ulama Syafi’iyah mewajibkan zakat fitrah dengan makanan pokok, namun masyarakat tetap boleh membayar dengan uang. 


Hal ini merujuk keputusan Bahtsul Masa-il LBM-PBNU di Jakarta, 18 Mei 2020 tentang pembayaran zakat fitrah dengan uang. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa masyarakat diperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang sesuai harga beras 2,7 kg atau 3,5 liter atau 2,5 kg sesuai kualitas beras yang layak dikonsumsi oleh masyarakat setempat.   


Dalam hal ini masyarakat boleh mengikuti pendapat ulama dalam madzhab Maliki yang memperbolehkan pembayar zakat fitrah dengan uang. Di dalam madzhab Maliki, timbangan sha’nya memiliki bobot yang sama dengan madzhab Syafi’i. Pendapat tersebut merujuk kepada penjelasan Syekh Ibnu Qasim dalam kitab al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil berikut:


 ومن المدونة قال مالك: لا يجزئه أن يدفع في الفطرة ثمنا. وروى عيسى عن الن القاسم: فإن فعله أجرأه


Artinya, “Di dalam kitab al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: ‘Tidaklah cukup bagi seseorang yang membayar zakat fitrahnya dengan bentuk uang’. Syekh Isa meriwayatkan dari imam Ibnu Qasim yang berakat: ‘Jika seseorang membeyar zakat fitrah dengan uang, maka hal itu sudah dianggap cukup (sah).’” (Muhammad bin Yusuf al-‘Abdari, al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar, [Beirut, Darul Fikr: 1398], jilid II, halaman 366).   


Kebolehan untuk berpindah (taqlid) ke pendapat mazhab lain dalam hal zakat dengan uang ini juga dijelaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Sayyid Ahmad as-Saqqaf:   


قَاعِدَةٌ: لَا يَجُوزُ فِي مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِخْرَاجُ الْعَرَضِ عَنِ الْقِيمَةِ، فَمَنْ أَرَادَ إِخْرَاجَهَا عَنْهَا فَلَهُ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ مِمَّنْ يَرَى الْجَوَازَ كَمَا أَفْتَى ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ بِجَوَازِ التَّقْلِيدِ فِي ذَلِكَ


Artinya: “Di dalam mazhab Imam As-Syafi’i RA tidak diperbolehkan membayar zakat dengan barang lain atas nama harga barter (dari benda yang ditentukan dalam teknik pembayaran zakat). Siapa saja yang ingin menunaikan zakat dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan mazhab Syafi’i RA ini dipersilakan untuk bertaqlīd kepada ulama dari mazhab lain yang membolehkannya sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Hajar dan imam lainnya tentang kebolehan bertaqlīd dalam persoalan tersebut.” (as-Sayyid ‘Alawi Ibn as-Sayyid Ahmad as-Saqqaf, Tarsyih al-Mustafidin, [Mesir, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah: t.t.] halaman 154).   


Karakteristik lain dari zakat melalui aplikasi adalah penyalurannya yang sering kali di luar daerah muzakki. Misalnya, muzakki berada di Jakarta, namun zakatnya disalurkan ke daerah di pelosok atau tempat tertentu yang lebih membutuhkan.    


Dalam fiqih klasik, terjadi perbedaan pendapat mengenai memindahkan zakat dari tempat muzakki berada (naqlu zakat). Meskipun pendapat yang kuat (adzhar) dalam mazhab Syafi'i cenderung melarang pemindahan zakat selama masih ada mustahik di daerah tersebut, namun terdapat pendapat kedua yang membolehkannya. 

Pendapat ini sering diambil oleh lembaga zakat nasional agar distribusi keadilan sosial dapat merata ke daerah-daerah yang jauh lebih membutuhkan.   


Syekh Ahmad Salamah al-Qulyubi menjelaskan hal ini sebagai berikut:


وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ:  مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ .... (وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ ..... (وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفَرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ   


Artinya, “Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat ketika masih ada orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Jika di suatu daerah tidak ditemukan golongan penerima zakat, maka wajib memindahkan zakat ke daerah terdekat. Sedangkan menurut pendapat yang kedua boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah.

Pendapat kedua ini telah dipilih oleh segolongan ulama' dari ashab imam Syafi'I, seperti Ibnu Shalah, Ibnu Al-Farkah dan ulama' yang lainnya.” (Ahmad Salamah al-Qulyubi, Hasyiah al-Qulyubi, [Beirut, Darul Fikr: 1995], jilid III, halaman 204).   


Dengan demikian, pembayaran zakat fitrah melalui aplikasi yang dikelola lembaga resmi hukumnya sah secara syariat. Praktik zakat fitrah melalui aplikasi dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi fiqih yang tetap berpijak pada prinsip-prinsip syariat tanpa mengabaikan kebutuhan zaman. Waallahu a’lam.

Tuesday, March 10, 2026

*📄UKURAN ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS* Sebenarnya berapa

 


*📄UKURAN ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS*


Sebenarnya berapa ukuran zakat fitrah dengan beras yang wajib dikeluarkan ? 


📚Jawaban :

Ukuran yang wajib dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah ukuran 1 sha' (4 mod). Dalam menggantikan ukuran mod ke kilo gram, para ulama berbeda pendapat, diantaranya sebagai berikut :

* Dalam kitab al-fiqhu al-manhaji & kitab al-tahdziib : 1 mod kurang lebih 6 ons x 4 = 2,4 kg. 

* Dalam kitab mukhtashar tasyyidul bunyan : 1 mod kurang lebih 6,24 ons x 4 = 2,5 kg

* Dalam kitab al-taqriratus sadidah & ghayah al-muna : 1 mod kurang lebih 6,875 ons x 4 = 2,75 kg

* Dalam kitab Fathu al-qadir & al-fiqhu al-islami : 1 mod kurang lebih 7 ons x 4 = 2,8 kg

* Pendapat ikhtiyat ( yang lebih berhati-hati ) di dalam kitab al-taqriratus sadidah : 1 mod kurang lebih 7,5 ons x 4 = 3 kg


📔RUJUKAN :


📔كفاية الأخيار  في حل غاية الإختصار - ص ١٩٧

 وَالِاعْتِبَار فِي الصَّاع بِالْكَيْلِ وَإِنَّمَا قدر الْعلمَاء الصَّاع بِالْوَزْنِ استظهارًا قَالَ النَّوَوِيّ قد يسْتَشْكل ضبط الصَّاع بالأرطال فَإِن الصَّاع الْمخْرج بِهِ فِي زَمَنه  مكيال مَعْرُوف وَيخْتَلف قدره وزنا باخْتلَاف جنس مَا يخرج كالذرة والحمص وَغَيرهمَا فَالصَّوَاب الِاعْتِمَاد على الْكَيْل دون الْوَزْن فَالْوَاجِب أَن يخرج بِصَاع معاير بالصاع الَّذِي كَانَ يخرج بِهِ فِي من رَسُول الله ﷺ فَمن لم يجد وَجب عَلَيْهِ أَن يخرج قدرا يتَيَقَّن أَنه لَا ينقص عَنهُ وعَلى هَذَا فالتقدير بِخَمْسَة أَرْطَال وَثلث تقريب وَقَالَ جمَاعَة من الْعلمَاء إِنَّه قدر أَربع حفنات بكفي رجل معتدل الْكَفَّيْنِ وَالله أعلم


📔الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي - ج ١ - ص ٢٣٠

والصاع الذي كان يستعمله رسول الله - ﷺ - إنما هو عبارة عن أربعة أمداد، أي حفنات، وهذه الحفنات الأربع مقدرة بثلاثة ألتار كيلًا، وتساوي بالوزن (٢٤٠٠) غرامًا تقريبًا

📔التهذيب في أدلة متن الغاية والتقريب - ص ١٠٠

وقدره خمسة أرطال وثلث بالعراقي *(٢)*

____


*(٢)* وتساوي بالوزن ٢٤٠٠ غراما تقريبا

📔مختصر تشييد البنيان ص ٢٠٥

وتجب زكاة الفطرة صاعًا برًا أم شعيرًا أو مسيبليًا أم كنيا أم دخنًا أصفر كما اعتمدوه في الجهة بل يجوز من كل حب وجبت فيه الزكاة والصاع أربعة أمداد والمد ثمانية عشر أوقية عن رطل ونصف في جهتنا في حضر موت الداخل سابقًا أما اليوم فالرطل موحد وهو ستة عشر أوقية في كامل المنطقة (اثنان كيلو ونصف تقريبًا).

📔تقريرات السديدة، ج ٦ ص ٤١٩

الواجب فيها صاع عن كل شخص (١) أي أربعة أمداد بمد النبي صلى الله عليه وسلم وهو ما يساوي حاليا ٢٫٧٥ كيلو تقريبًا (٢) ١٠٠. 

وإذا لم يقدر على الصاع وقدر على بعضه وجب لأن الميسور لا يسقط بالمعسور (٢) وبعضهم يقول ثلاث كيلوات تقريبًا فالأفضل الاحتياط.


📔فتح القدير ص ٢٠

ساتو نصاب براس فوتيه : 2719,19 غرام

📔وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي - ج ١ - ص ١٤٢

الصاع الشرعي أو البغدادي: (4) أمداد (1/3 و5) رطل، أي أربع حفنات كبار. وزنه: (7.685) درهما أو (75.2) لترًا أو (2176) غم وهو رأي الشافعي وفقهاء الحجاز والصاحبين باعتبار أن المد: رطل وثلث بالعراقي، وعند أبي حنيفة وفقهاء العراق: ثمانية أرطال باعتبار أن المد رطلان، فيكون (3800 غم). وفي تقدير آخر هو الشائع أن الصاع (2751 غم). قال النووي: الأصح أن الصاع ستمائة وخمسة وثمانون درهما وخمسة أسباع درهم، والرطل مئة وثمانية وعشرون درهما وأربعة أسباع درهم. والعبرة بالصاع النبوي إن وجد أو معيارِه، فإن فقد أخرج مزكي الفطرة قدرًا يتيقن أنه لا ينقص عن صاع. والصاع بالكيل المصري: قدحان.


📔غاية المنى شرح سفينة النجا ص ٥٤٩ مكتبة تريم الحديثة

وقدر زكاة الفطر صاع لحديث ابن عمر المتقدم، والصاع أربعة أمداد نبوية، ومقداره وزنًا بالأوزان الحالية ثلاثة كيلو غرام إلا ربعًا من غالب قوت المؤدي عنه، وقيل من قوت نفسه. اهـ

📔سعيد باعشن، شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم، صفحة ٥١٧

وإن قدر على بعضه (أي: الصاع) فقط .. أخرجه (أي: البعض وجوبًا) إذ الميسور لا يسقط بالمعسور، ومحافظة على الوجوب ما أمكن.


@⁨semua⁩ mungkin ada yang mau ditanggapi

Tuesday, July 9, 2024

CANGKOK ORGAN DENGAN KULIT TUBUH SEMISAL DARI PANTAT

PERINGATAN TAHUN BARU ISLAM 1446 H/2024 



‏﷽

۝ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى

النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا

عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ۝ ﷺ.


🌹 مشاورتكم مباركة 🌹


☀️CANGKOK ORGAN☀️


📩 SOAL NO 481

💯TANYA MASAIL DINIYYAH 



💦 Deskripsi

Assalamualaikum mohon izin bertanya poro yai dan nyai. 

Ada seorang yang baru saja mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kulit bagian pipi sobek lalu saran dokter agar diganti/ditembel  kulitnya dengan kulit tubuh yang lain seperti pantat. 


✳️Pertanyaan

1. Hukum menambal kulit pipi menggunakan kulit aurat?

🌨️Jawaban 🌨️

Hukum merubah bentuk ciptaan Allah sangatlah di larang dalam agama. Lalu transplantasi atau cangkok organ dari bagian tubuhnya sendiri yang termasuk aurot semisal dari bagian pantat karena alasan cacat pasca kecelakaan (robeknya pipi) hukumnya boleh dengan beberapa sarat berikut :

a. Tidak ada pilihan lain selain menggunakan bagian tubuh manusianya. 

b. Bahwa kerugian akibat tidak menanam organ tersebut dengan maksud mempercantik lebih besar daripada kerugian akibat tidak mematuhi larangan. 

c. Dia berpikir kemungkinan besar operasi akan berhasil.

d. Bahwa pemotongan organ tidak boleh mengakibatkan kerugian yang lebih besar, seperti mematahkan atau merusak organ apa pun.

Jikalau salah satu sarat di atas tidak terpenuhi maka hukumnya haram melakukan pemindahan atau transplantasi organ. 


Catatan :

1. Transplantasi organ dari tubuhnya sendiri bisa di perbolehkan dengan keempat sarat di atas jika bertujuan untuk menemukan anggota yang hilang, untuk mengembalikan bentuk atau fungsinya, atau untuk memperbaiki cacat atau menghilangkan cacat yang menyebabkan kerugian psikologis atau fisik pada orang tersebut.

2. Transplantasi organ dari orang lain baik hidup atau sudah mati hukumnya haram, karena termasuk merubah bentuk ciptaan Allah dan merusak kehormatannya jika sudah mati. 


⚜️🌐 ━•⊰Referensi⊱•━⚜️🌐

مجموعة من المؤلفين ,الموسوعة الفقهية الكويتية ,ج ١٢ ص ٩٦ 

وَلاَ يَحِل لِلإِِْنْسَانِ أَنْ يُشَوِّهَ جِسْمَهُ بِإِِتْلاَفِ عُضْوٍ مِنْ أَعْضَائِهِ، أَوْ إِخْرَاجِهِ عَنْ وَضْعِهِ الَّذِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ. كَمَا لاَ يَحِل لَهُ أَنْ يَفْعَل ذَلِكَ بِغَيْرِهِ، إِلاَّ حَيْثُ أَذِنَ اللَّهُ تَعَالَى بِذَلِكَ وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النُّهْبَى وَالْمُثْلَةِ. (1) (ر: مُثْلَةٌ) .

كَمَا لاَ يَحِل لَهُ أَنْ يَقْصِدَ تَشْوِيَهُ نَفْسِهِ بِلُبْسِ مَا يَنْفِرُ النَّاسُ مِنْهُ وَيُخْرِجَهُ عَنِ الْمُعْتَادِ (ر: أَلْبِسَةٌ)  


احكام جراحة التجميل في الفقه الإسلامي للدكتور محمد عثمان شبير ص  ٣٩-٤٠

ثانيا : بناء الأعضاء بحيث يستقطع جزء من الآدمي ويزرع في محل العضو المبتور :

إذا تعرض عضو من الأعضاء لبتر نتيجة حادث مروري ، فهل يجوز بناؤه من جديـد ؟ بحيث يستقطع جزء من الآدمي ويزرع في مكان العضو المبتور . ومن الأمثلة على ذلـك بناء الأنف حيث يستخدم في بنائه شرائح جلدية تنقل إلى الأنف إما من الجبهة أو مـن جدار البطن ، ثم تقوى بعظم يؤخذ إما من القفص الصدري أو الحوض .


لم يتعرض الفقهاء لمثل هذه العلميات وإنما عرضوا لحكم بناء الأعضـاء مـن المعـادن كالذهب والفضة ، كما تعرضوا لحكم استقطاع قطعة من الفخذ ليأكلـها المضـطر ، حيث قال النووي : " ولو أراد المضطر أن يقطع قطعة من فخذه أو غيرها ليأكلها ، فإن كان الخوف منه كالخوف في ترك الأكل أو اشد حرم ، وإلا جاز على الأصح بشـرط ألا يجد غيره ، فإن وجد حرم قطعا " .(روضة الطالبين ج ٣ص ٢٨٥) 


فإذا جاز أخذ القطعة من الجسم للأكل ،وهو إتلاف لها بالكلية جاز أخذ الجلدة لزرعها في موضع من جسمه لإزالة شين فاحش ، لا سيما وأن الشين الفاحش في العضو الظاهر كخوف طول المرض كما قال الزركشي.


وينبغي أن يقيد جواز الاستقطاع بقصد الزرع بالقيود التالية :


١ – أن يتعين عليه استعمال ذلك الجزء من الآدمي ، بحيث لا يوجد غيره يقوم مقامه . 

٢ – أن يكون الضرر المترتب على عدم الزرع بقصد التجميل أعظم من الضرر المترتب على عدم مراعاة المحظور 

٣– أن يغلب على ظنه نجاح العملية الجراحية .

٤ – أن لا يترتب على الاستقطاع ضرر أكبر ككسر أية عضو أو تلفه .


وهبة الزحيلي ,الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ج ٧ ص ٥١٢٤ 

أولاً: يجوز نقل العضو من مكان من جسم الإنسان إلى مكان آخر من جسمه، مع مراعاة التأكد من أن النفع المتوقع من هذه العملية أرجح من الضرر المترتب عليها، وبشرط أن يكون ذلك لإيجاد عضو مفقود أو لإعادة شكله أو وظيفته المعهودة له، أو لإصلاح عيب أو إزالة دمامة تسبب للشخص أذى نفسياً أو عضوياً.

ثانياً: يجوز نقل العضو من جسم إنسان إلى جسم إنسان آخر، إن كان هذا العضو يتجدد تلقائياً، كالدم والجلد، ويراعى في ذلك اشتراط كون الباذل كامل الأهلية، وتحقق الشروط الشرعية المعتبرة.

ثالثاً: تجوز الاستفادة من جزء من العضو الذي استؤصل من الجسم لعلة مرضية لشخص آخر، كأخذ قرنية العين لإنسان ما عند استئصال العين لعلة مرضية.


Catatan 

مناهل العرفان للشيخ فضل بن عبد الرحمن الشافعي ص ٣٧٨

حكم نقل الأعضاء

نقل الأعضاء من جسد حي أو ميت لآخر لا يجوز ؛ لأنّه لم يكن مأذوناً فيه من الشارع ، بل نهى عن التغيير لخلق الله ، فإذا منع الشارع خصاء الآدمي لذلك . . فما بالك بنقل أعضائه من عين وقلب ونحو ذلك وإن كان ميتاً ؟! ففيه هتك لحرمته الواجب علينا صونها. 


وكذلك بيع أعضاء الإنسان فلا يجوز ولا يصح ؛ لأنها غير مملوكة لصاحبها ، بل هي أمانة عنده ، والملك فيها الله سبحانه وتعالى ، والحر غير قابل للبيع لا كلا ولا بعضاً .


نعم ؛ الدم يجوز فيما يظهر لي أخذه من الشخص ونقله إلى آخر إذا لم يكن فيه ضرر على المأخوذ منه ؛ لأنّه كالفضلة ، ولكن لا يصح بيعه ؛ لأنه نجس وغير مملوك ، غير أنه يجوز أخذ عوض عنه كالاختصاص في مقابل رفع اليد عنه ، وكل هذا يؤخذ من كلام الفقهاء وبحوثهم وتعاليلهم ، فلا نطيل بذلك


2. Pipi ditambal dengan kulit pantat, apakah pipi nanti termasuk aurat?


🌨️Jawaban 🌨️

Bagian pipi yang di tambal dengan kulit pantat di anggap aurat dalam masalah wajib menutupinya. 


⚜️🌐 ━•⊰Referensi⊱•━⚜️🌐


الرملي، شمس الدين ,نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج  ج ٢ ص ٧

فَرْعٌ تَعَلَّقَتْ جِلْدَةٌ مِنْ فَوْقِ الْعَوْرَةِ إلَيْهَا أَوْ بِالْعَكْسِ مَعَ الْتِصَاقٍ أَوْ دُونَهُ، فَيَحْتَمِلُ أَنْ يَجْرِيَ فِي وُجُوبِ سِتْرِهَا وَعَدَمِهِ مَا ذَكَرُوهُ فِي وُجُوبِ الْغُسْلِ وَعَدَمِهِ فِيمَا لَوْ تَعَلَّقَتْ جِلْدَةٌ مِنْ مَحِلِّ الْفَرْضِ فِي الْيَدَيْنِ إلَى غَيْرِهِ أَوْ بِالْعَكْسِ.


 الشرقاوى ج ١ ص ١٧٤

قوله ما بين سرته وركبته الى أن قال فلا يجب ستره وكذا لو تعلقت جلدة من غير العورة ووصلت اليها مع الإلتصاق أو دونه بخلاف العكس بأن تعلقت من العورة الى غيرها على ما مر فإنه يجب سترها إعتبارا بالأصل فيهما والفرق بين هذا وبين ما ذكروه فيما لو تعلقت جلدة من الفرض فى اليدين مثلا الى غيره أو بالعكس حيث قالوا بعدم وجوب غسلها فى الأول دون الثاني ان أجزاء العورة لها حكمها فى حرمة النظر وإن انفصلت عن اليدين بالكلية كشعر المحلوق من العانة ولاكذلك المنفصل من محل الفرض 


3. Jika termasuk aurat, bagaimana cara shalatnya?

Matur suwun


🌨️Jawaban 🌨️

Cara sholatnya tetap seperti pada umumnya hanya saja dalam masalah ini ada penambahan wajibnya menutup bagian pipi yang di tambal, dan di saat sujud jika harus memilih sujud atau menutup dengan tangan maka menurut Imam Romli wajib mengedepankan meletakkan tangan  dalam sujud dan wajib meninggalkan menutup Karena pembuat undang-undang yaitu Allah mewajibkannya untuk meletakkan tujuh anggota sujud, dan pada saat itu dia tidak mampu menutupi sedangkan menutupi hanya wajib jika dia mampu. Namun ada yang mengatakan mendahulukan menutup karena terdapat kesepakatan pendapat dari dua Guru besar Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. 


⚜️🌐 ━•⊰Referensi⊱•━⚜️🌐


حاشية البجيرمي على الخطيب ٤٥٢/١

ﻭﺇﺫا ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭاﻟﺴﺘﺮ ﺑﻴﺪﻩ ﻗﻴﻞ ﻳﻘﺪﻡ اﻟﺴﺠﻮﺩ؛ ﻷﻧﻪ ﺭﻛﻦ ﻭاﻟﺴﺘﺮ ﺷﺮﻁ، ﻭﻗﻴﻞ ﻳﻘﺪﻡ اﻟﺴﺘﺮ ﻻﺗﻔﺎﻕ اﻟﺸﻴﺨﻴﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺨﻼﻑ اﻟﺴﺠﻮﺩ؛ ﻷﻥ اﻟﺮاﻓﻌﻲ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻌﺪﻡ ﻭﺟﻮﺏ ﻭﺿﻊ ﻳﺪﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﺠﻮﺩ؛ ﻷﻥ اﻟﻮاﺟﺐ ﻋﻨﺪﻩ ﻭﺿﻊ اﻟﺠﺒﻬﺔ ﻓﻘﻂ ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﻣ ﺩ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺤﺮﻳﺮ، ﻭﺇﺫا ﺗﻌﺎﺭﺽ اﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭاﻟﺴﺘﺮ ﻗﺪﻡ اﻟﺴﺠﻮﺩ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ، ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺿﻊ ﻳﺪﻩ ﻭﻳﺘﺮﻙ اﻟﺴﺘﺮ؛ ﻷﻥ اﻟﺸﺎﺭﻉ ﺃﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺿﻊ اﻷﻋﻀﺎء اﻟﺴﺒﻌﺔ ﻓﺼﺎﺭ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻋﺎﺟﺰا ﻋﻦ اﻟﺴﺘﺮ، ﻭاﻟﺴﺘﺮ ﻻ ﻳﺠﺐ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺪﺭﺓ


حاشية الشرواني  ٢ / ١١٥

ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻮ‍ﺑ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻭ‍ﻝ‍ ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﺑ‍‍ﺘ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﻠ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻄ‍‍ﻴ‍‍ﺐ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﺪ‍ﻩ‍ ‍ﺷ‍‍ﻴ‍‍ﺨ‍‍ﻨ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺰ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﻱ‍ ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺷ‍‍ﻴ‍‍ﺨ‍‍ﻨ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﻠ‍‍ﻲ‍ ‍ﺑ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﻮ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﺗ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﺪ‍ﻩ‍ ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻩ‍.


‍ﻛ‍‍ﺮ‍ﺩ‍ﻱ‍ ‍ﻋ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺓ ‍ﺷ‍‍ﻴ‍‍ﺨ‍‍ﻨ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺠ‍‍ﻮ‍ﺩ ‍ﻫ‍‍ﻞ‍ ‍ﻳ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺠ‍‍ﻮ‍ﺩ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﺭ‍ﺟ‍‍ﺢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﻠ‍‍ﻲ‍ ‍ﺗ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺪ‍ﻩ‍ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺠ‍‍ﻮ‍ﺩ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻉ‍ ‍ﺃ‍ﻭ‍ﺟ‍‍ﺐ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻋ‍‍ﻀ‍‍ﺎﺀ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﺔ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﺼ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺟ‍‍ﺰ‍ﺍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺟ‍‍ﺢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﻠ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﺘ‍‍ﻔ‍‍ﻖ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﺪ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺸ‍‍ﻴ‍‍ﺨ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻭ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﺪ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺠ‍‍ﻮ‍ﺩ ‍ﻣ‍‍ﺨ‍‍ﺘ‍‍ﻠ‍‍ﻒ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺓ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺘ‍‍ﻔ‍‍ﻖ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻣ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻋ‍‍ﺎ‍ﺓ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺨ‍‍ﺘ‍‍ﻠ‍‍ﻒ‍ ‍ﻓ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﻙ‍ ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺑ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻩ‍. ‍ﻭ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﻘ‍‍ﺮ‍ﺏ‍ ‍ﻉ‍ ‍ﺵ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﻠ‍‍ﻘ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻲ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺿ‍‍ﻊ‍ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺠ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﻲ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺒ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﺎ‍ﻭ‍ﻱ‍ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻌ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻣ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﺣ‍‍ﺞ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻄ‍‍ﻴ‍‍ﺐ‍ ‍ﻳ‍‍ﺘ‍‍ﺨ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻬ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﺍ‍ﻩ‍.

‍ﻭ‍ﻫ‍‍ﻮ ‍ﻳ‍‍ﺨ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻒ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻣ‍‍ﺮ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ الكردي عن الخطيب فليراجع.


.╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫🌱💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸

Saturday, July 1, 2023

MENERIMA JOB DUA KALI JADWAL KHUTBAH DALAM HARI YANG BERBEDA, BAGAIMANAKAH?

 MWC.NUGAR.ANZAAY


Soal

[Sambil santai....kalau para ustadz tadi siang hari RABU Nerima job Khotib Idhul Adha dan besok hari kamis Nerima lagi ...itu bagaimana yaak...?

Kalau dari segi keuntungan siih enak..kita menang banyak.....


Jawaban sebagai berikut dibawah ini: 

[ Dalam paradigma fikih, persoalan ini tidak ditentukan. Kasus ini tidak bisa dihukumi i’adah (mengulang). Karena sudah di luar waktu. Juga tidak bisa dihukumi qadla’ karena kemarin ia telah melaksanakan shalat ied secara sah. Untuk itulah, minimal pelaksanaan shalat kedua ini berstatus La Yambaghi (tidak semestinya), bisa makruh bisa haram.

Kesimpulan ini (terpaksa) diambil, karena dalam shalat, ibadah kita terikat dengan juklak syara’. Seseorang tidak boleh menciptakan model ibadah sendiri tanpa bimbingan agama, semua harus berpatokan dengan aturan syariat yang sudah ditentukan.

Muhammad Alawi al-Maliki mengatakan :

ان الله سبحانه وتعالى لا يعبد الا بما شرع ولذالك كانت العبادات كلها توقيفية لا تعلم الا من جهة الله تعالي

“Allah ta’ala tidak boleh disembah kecuali dengan cara yang telah diatur oleh Syara’. Karena itulah, seluruh praktek ibadah merupakan tauqifi  (juklak agama) yang tidak bisa diketahui kecuai dengan petunjuk-Nya sendiri. (Mafhumal-Tathawwur wa al-Tajdid halaman 21)

Imam Syafi’i dalam al Umm menyebut:

Namun demikian, tidak semua shalat ied dua kali salah. Malah ada yang dianjurkan. Yakni ketika terjadi syubhah ar-rukyah (kekaburan rukyah). Misalnya begini, ada seseorang yakin melihat bulan, sayangnya ia tidak mungkin bersaksi, karena validitas dan kredibilitasnya diragukan. Karenanya, secara pribadi ia wajib berbuka (lantaran secara pribadi ia yakin bahwa saat itu tanggal 1 Syawwal) dan untuk selanjutnya salat ‘ied sendirian. Esok, ketika masyarakat melaksanakan ‘ied berjamaah, ia boleh ikut kembali. 

Sumber :

(Al-Umm, juz 1 halaman 263)

MASIH ADAKAH WALI, BAGAIMANAKAH KOMENTARMU

 MWC.NUGAR.ANZAAY

"Zaman sekarang sudah tidak ada wali. Kalau dulu-dulu, masih banyak wali. Kalau sekarang sudah zaman rusak, tidak ada walinya".

Bila ada orang yang berkata demikian, maka jawabannya:

*"Bukannya tidak ada wali. Akan tetapi kamu yang tidak dikehendaki oleh ALLOH untuk bisa melihat dan mempercayai wali".*

Imam Ahmad bin Muhammad bin Atho'illah As-Sakandari menyebutkan: "Apabila ahli zaman berpaling dari ALLOH dan lebih mendahulukan selain ALLOH, tidak manfaat baginya suatu nasehat, pengingat baik tidak menjadikannya condong kepada ALLOH, maka mereka tidak pantas melihat kemunculan wali ALLOH".

Para ulama berkata: "Wali ALLOH adalah pengantin. Dan orang-orang buruk tidak dapat melihat pengantin tersebut".

فإذا كان أهل الزمن معرضين عن الله، مؤثرين لما سوى الله، لا تنجع فيهم الموعظة، ولا تميلهم إلى الله التذكرة، لم يكونوا أهلا لظهور أولياء الله تعالى فيهم. 

ولذلك قالوا: أولياء الله عرائس، ولا يرى العرائس المجرمون.

Dinukil dari kitab _Lathoiful Minan Fii Manaqibisy Syaikh Abil Abbas Wasyaikhihi Abil Hasan_ karya Imam Ibnu Atho'illah As-Sakandari.

وسمعته يقول يعنى شيخه أبا العباس رضي الله عنه يقول معرفة الولي أصعب من معرفة الله فإن الله معروف بكماله وجماله وحتى ومتى تعرف مخلوقا مثلك يأكل كما تأكل ويشرب كما تشرب وقال فيه وإذا أراد الله أن يعرفك بولي من أوليائه طوى عنك وجود بشريته وأشهدك وجود خصوصيته اهـ


 Artinya, “Aku (Syekh Ibnu Athaillah) mendengarnya (maksudnya adalah gurunya), Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata, ‘Mengenal wali lebih sulit dari mengenal Allah. Allah dapat dikenali dengan kesempurnaan dan keindahan-Nya. tetapi kapan kau bisa mengenali tanda wali, makhluk sepertimu. Ia makan sebagaimana kamu makan, ia minum sebagaimana kamu minum.’ Ibnu Athaillah berkata di Latha’iful Minan, ‘Kalau Allah menghendakimu kenal dengan salah satu walinya, Allah melipat unsur manusiawinya di matamu dan Allah memperlihatkanmu keistimewaannya,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 2).

Meskipun demikian, secara umum para wali dapat teridentifikasi. Minimal mereka mengandung tiga sifat berikut ini sebagaimana keterangan Syekh Zarruq.


 ثم الولي يعرف بثلاث: إيثار الحق، والإعراض عن الخلق، والتزام السنة بالصدق

 Artinya, “Tetapi waliyullah itu dapat dikenali dengan tiga tanda: mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 133).

Meskipun Syekh Zarruq menyebutkan demikian, kita tetap sulit menunjuk hidung siapa wali Allah di tengah kita. Mereka beribadah sebagaimana kita. Mereka juga kadang berbuat khilaf seperti kita. Mereka berpakaian seperti kita. Mereka juga entah apa profesi kesehariannya. Hanya bedanya, mereka terjaga dari penyakit batin dan mereka menjaga adab kepada Allah saat berbuat taat maupun saat berbuat maksiat karena kuasa-Nya atas bimbingan-Nya. Mereka sama sekali tak terduga. Karena sulitnya menentukan mereka, kita hanya bisa berlaku husnuzzhan (berbaik sangka) kepada setiap orang. 

Semoga dengan menghormati para kekasih Allah itu, kita dapat kelimpahan rahmat-Nya. Amiiin, ya Rabbal alamin. Wallahu a‘lam.

KRITERIA ISTRI:NASAB YANG BAIK

 


📘 *Kilas Nikah*

❁❅━━━━┉┉┈


🧕 _*Kriteria Istri ; Nasab Yang Baik*_

----------------------


Menikahi wanita yang nasabnya baik dianjurkan...❇️

     

                        --<>--<>--<>--<>--


*ذات نسب طيب، لا بنت زناً ولا بنت فاسق، ومثلهما اللقيطة ومن لا يعرف لها أب؛ لخبر « تخيروا لِنُطَفَكُم »، غير ذات قرابة قريبة بأن كانت أجنبية أو ذات قرابة بعيدة؛ لضعف الشهوة في ذات القرابة القريبة؛ كبنت العم، فيجيء الولد نحيفاً.*

[الباجوري، ٢/ ١٨٧]


_(Dianjurkan) menikahi wanita yang memiliki nasab yang baik. Bukan hasil zina dan bukan anak orang fasik. Seumpama dengan itu adalah anak temuan dan wanita yang tidak diketahui siapa ayahnya. Hal ini sesuai Hadits «Pilihlah (tempat yang baik) untuk Sperma Kalian»¹. Bukan yang memiliki hubungan kekerabatan dekat. Bentuknya bisa merupakan wanita ajnabiyah atau yang memiliki hubungan kekerabatan jauh. Sebab, kekerabatan yang dekat mengakibatkan lemahnya syahwat. Seperti anaknya paman. Maka, dapat mengakibatkan anaknya kurus._

_

¹Diperselisihkan kesohihannya. lihat Faidhul Qodir hadits no.3268.


✿❁ ═══════

https://t.me/fikih_nikah

Thursday, June 29, 2023

JABAT TANGAN DENGAN YANG BUKAN MAHRAM*


MWC NUGAR.ANZAAY


*JABAT TANGAN DENGAN YANG BUKAN MAHRAM*


Biasanya saat hari raya, kita bersalam²man dengan saudara dan tetangga. Maka hindarilah bersalaman dengan lawan jenis yg bukan mahram. Dan jika terpaksa hendaknya memakai sarung tangan. Berikut pendapat para ulama ttg salaman dengan yg bukan mahram:


1). Madzhab Hanafiyah > Haram kalau masih muda, kalau perempuan tua boleh apabila tidak syahwat.


تحفة الفقهاء لِعلاء الدين السمرقندي - (ج 3 / ص 333)


وأما المس فيحرم سواء عن شهوة أو عن غير شهوة وهذا إذا كانت شابة فإن كانت عجوزا فلا بأس بالمصافحة إن كان غالب رأيه أنه لا يشتهي ولا تحل المصافحة إن كانت تشتهي وإن كان الرجل لا يشتهي


2). Madzhab Malikiyah > Haram Mutlaq.


حاشية الصاوي على الشرح الصغير - (ج 11 / ص 279)


وَلَا تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى حُسْنِ الْمُصَافَحَةِ مَا تَقَدَّمَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ قَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ : لَا .


3). Madzhab Syafi’iyyah > Haram kecuali pakai sarung tangan, dan tidak timbul syahwat.


حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 10 / ص 113)


وَتُسَنُّ مُصَافَحَةُ أَيْ عِنْدَ اتِّحَادِ الْجِنْسِ، فَإِنْ اخْتَلَفَ فَإِنْ كَانَتْ مَحْرَمِيَّةً أَوْ زَوْجِيَّةً أَوْ مَعَ صَغِيرٍ لَا يُشْتَهَى أَوْ مَعَ كَبِيرٍ بِحَائِلٍ جَازَتْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَلَا فِتْنَةٍ؛ نَعَمْ يُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ فَتَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ كَمَا قَالَهُ الْعَبَّادِيُّ ا هـ مَرْحُومِيٌّ .


4). Madzhab Hambaliyah > Haram Mutlaq.


الإقناع في فقه الإمام لأحمد الحجاوي- (ج 1 / ص239)


ولا يجوز مصافحة المرأة الأجنبية الشابة وأن سلمت شابة على رجل رده عليها وإن سلم عليها لم ترده وإرسال السلام إلى الأجنبية وإرسالها إليه لا بأس به للمصلحة وعدم المحذور

SEMOGA BERMANFAATNYA BAGI KITA SEMUA. Aamiin ya Rabbal Alamin 

 
Copyright © 2014 anzaaypisan. Designed by OddThemes