BREAKING NEWS

Watsapp

Thursday, June 27, 2024

HASIAT TEBU MENGHILANGKAN MACAM MACAM PENYAKIT

TERJEMAH NIHAYATUZZAEN MUQODIMAH PART 8

TERJEMAH NIHAYATUZZAEN 

MUQODIMAH 

PART 8


وَفَائِدَته امْتِثَال أوَامِر الله تَعَالَى وَاجْتنَاب مناهيه المحصلان للفوائد الدُّنْيَوِيَّة والأخروية وَذَلِكَ كَالْبيع وَالشِّرَاء وكالصلاة


"Dan manfaatnya ilmu fiqih adalah mematuhi perintah-perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang menghasilkan manfaat duniawi dan ukhrawi, seperti jual beli dan shalat."


وفضله أَنه من أشرف الْعُلُوم وَهُوَ من عُلُوم الدّين الشَّرْعِيَّة

Keutamaannya ilmu fiqih adalah ilmu fiqih termasuk utamanya ilmu ilmu, dan termasuk ilmu agama dan syariat


ونسبته أَنه فرع علم التَّوْحِيد واسْمه علم الْفِقْه وَعلم الْفُرُوع


Nisbatnya fiqih adalah cabang dari ilmu tauhid, dan nama fiqih yaitu ilmu fiqih dan ilmu furu ( cabang ).


والواضع لَهُ إِجْمَالا الإِمَام أَبُو حنيفَة النُّعْمَان بِمَعْنى أَنه أول مُصَنف فِيهِ إِلَّا بَاب التَّفْلِيس وَالْحجر والسبق وَالرَّمْي . فَأول مُصَنف فِيهِ إمامنا الشَّافِعِي .


Imam Abu Hanifah al-Nu'man adalah tokoh yang pertama kali menyusun / mengarang secara komprehensif / global ilmu fiqh, kecuali beberapa bab tertentu seperti bab tentang tafliis (kebangkrutan), hajr (penolakan/larangan), sabaq (perlombaan), dan ramyu (lemparan / memanah).

 Imam ASy-Syafi'i merupakan tokoh yang pertama kali menyusun dalam bab-bab tersebut ( التفليس، السبق، الرمی ).


وَحكم الشَّارِع فِي تعلمه الْوُجُوب الْعَيْنِيّ فِيمَا يتلبس بِهِ الشَّخْص والكفائي فِي غير ذَلِك


Hukum syariat mempelajari tentang mempelajari ilmu fiqh adalah wajib 'ain (wajib secara langsung) untuk hal-hal yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dan cukup (kifayat) untuk hal-hal lainnya ( فيما يتلبس به ).


ومسائله قضاياه الَّتِي يبْحَث فِيهِ عَنْهَا كَزَكَاة التِّجَارَة وَاجِبَة , وَالْحلف بِغَيْر الله مَكْرُوه, 

وزيارة الْقُبُور مُسْتَحبَّة, وَالْأكلِ لَا بِقصد شَيْء مُبَاح 

Dan perkara-perkara yang menjadi pokok perhatiannya dalam ilmu fiqh termasuk masalah seperti kewajiban zakat perdagangan, yang mana wajib dilaksanakan; bersumpah dengan nama selain Allah adalah makruh; ziarah ke makam-makam adalah mustahab (disunahkan); dan makan tanpa niat khusus untuk melakukan sesuatu adalah mubah.


(على مَذْهَب الإِمَام) الْمُجْتَهد اجْتِهَادًا مُطلقًا أَي على اخْتِيَاره للْأَحْكَام (الشَّافِعِي) نِسْبَة إِلَى شَافِع بن السَّائِب, نسب هَذَا الإِمَام إِلَيْهِ لِأَنَّهُ صَحَابِيّ ابْن صَحَابِيّ (رَحمَه الله تَعَالَى).


Menurut madzhab (pendapat) Imam al-Mujtahid secara mutlak, yaitu dengan melakukan ijtihad secara keseluruhan, ini berarti bahwa ia memilih hukum-hukum menurut madzhab Syafi'i, yang dinamakan demikian ( الشافعی ) karena merujuk kepada Syafi'i bin al-Sa'ib.

 "Imam ini dihubungkan dengannya karena dia adalah sahabat Nabi anak dari seorang sahabat Nabi (semoga Allah merahmatinya) 

 

 والمجتهد الْمُطلق هُوَ من يقدر على استنباط الْأَحْكَام من الْأَدِلَّة.

 

 1⃣mujtahid mutlak adalah orang yang mampu mengambil hukum-hukum dari dalil-dalil. ( sumber yaitu alquran hadis ).

 

 ومجتهد الْمَذْهَب هُوَ الَّذِي يقدر على الاستنباط من قَوَاعِد إِمَامه كالمزني والبويطي.

 

2⃣ "Mujtahid mazhab adalah orang yang mampu menarik kesimpulan hukum-hukum dari prinsip-prinsip/ koidah koidah imamnya seperti al-Muzani dan al-Buwayti."


📝۞"Mujtahid al-mazhab" adalah seorang cendekiawan yang memiliki kualifikasi untuk menafsirkan hukum-hukum Islam dari prinsip-prinsip dasar yang diajarkan oleh imam atau pendiri mazhab tertentu. Misalnya, seperti al-Muzani dan al-Buwayti yang merupakan ulama terkemuka dalam mazhab Syafi'i.۞

 

 ومجتهد الْفَتْوَى من يقدر على التَّرْجِيح لبَعض أَقْوَال إِمَامه على بعض كالنووي والرافعي لَا كالرملي وَابْن حجر لِأَنَّهُمَا مقلدان فَقَط.

3⃣ "Mujtahid fatwa adalah orang yang mampu melakukan penilaian lebih mendalam terhadap beberapa pendapat imamnya, seperti an-Nawawi dan ar-Rafi'i, bukan seperti ar-Ramli dan Ibnu Hajar yang hanya mengikuti (mazhab imam mereka).

 

۞"Penjelasan: Mujtahid fatwa adalah seorang cendekiawan yang memiliki kemampuan untuk memilih di antara berbagai pendapat yang diberikan oleh imam mazhab mereka. Dalam hal ini, seperti an-Nawawi dan ar-Rafi'i, mereka diketahui sebagai mujtahid yang mampu melakukan ijtihad dan memberikan fatwa berdasarkan penilaian mereka sendiri terhadap dalil-dalil hukum.Di sisi lain, ar-Ramli dan Ibnu Hajar dianggap sebagai "muqallidin"

 (pengikut) karena mereka lebih banyak merujuk kepada pendapat-pendapat imam mazhab mereka tanpa melakukan ijtihad sendiri. Dengan kata lain, mereka mengikuti secara taqlid (pengikut) terhadap pendapat imam tanpa melakukan analisis atau penilaian yang mendalam.۞


 وَيجب على من لم يكن فِيهِ أَهْلِيَّة الِاجْتِهَاد الْمُطلق أَن يُقَلّد فِي الْفُرُوع وَاحِدًا من الْأَئِمَّة الْأَرْبَعَة الْمَشْهُورين .

 "Dan wajib bagi orang yang tidak memiliki keahlian mutlak untuk berijtihad untuk mengikuti salah satu dari empat imam yang terkenal dalam cabang-cabang agama."

 

وهم الإِمَام الشَّافِعِي وَالْإِمَام أَبُو حنيفَة وَالْإِمَام مَالك وَالْإِمَام أَحْمد بن حَنْبَل رَضِي الله عَنْهُم وَالدَّلِيل على ذَلِك قَوْله تَعَالَى {فاسألوا أهل الذّكر إِن كُنْتُم لَا تعلمُونَ} ٢١ الْأَنْبِيَاء الْآيَة ٧ .


"Dan mereka adalah Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal, semoga Allah meridhai mereka. Dalil atas hal itu adalah firman-Nya yang artinya, 'Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.' (Surah An-Nahl, ayat 43)."


فَأوجب الله السُّؤَال على من لم يعلم وَيلْزم عَلَيْهِ الْأَخْذ بقول الْعَالم وَذَلِكَ تَقْلِيد لَهُ .


"Allah mewajibkan untuk bertanya kepada orang yang tidak mengetahui, dan dia diwajibkan untuk mengikuti pendapat ulama. Ini berarti dia harus mengikuti salah satu dari empat imam yang terkenal.


وَلَا يجوز تَقْلِيد غير هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعَة , من بَاقِي الْمُجْتَهدين فِي الْفُرُوع مثل الإِمَام سُفْيَان الثَّوْريّ وسُفْيَان بن عُيَيْنَة وَعبد الرَّحْمَن بن عمر الْأَوْزَاعِيّ.


 Tidak boleh mengikuti selain dari empat imam tersebut, seperti Imam Sufyan Ath-Thawri, Sufyan bin Uyainah, dan Abdul Rahman bin Amr Al-Awza'i, yang merupakan ulama mujtahid dalam cabang-cabang agama."


 وَلَا يجوز أَيْضا تَقْلِيد وَاحِد من أكَابِر الصَّحَابَة لِأَن مذاهبهم لم تضبط وَلم تدون .

 

 "Dan tidak boleh juga meniru satu dari tokoh besar dari para sahabat, karena madzhab mereka tidak terdokumentasi dan tidak tercatat."

 

 وَأما من فِيهِ أَهْلِيَّة الِاجْتِهَاد الْمُطلق فَإِنَّهُ يحرم عَلَيْهِ التَّقْلِيد ,

 "Dan mengenai orang yang memiliki kemampuan ijtihad mutlak, maka ia diharamkan untuk melakukan taqlid (peniruan) [terhadap pendapat orang lain]."


  وَيجب على من لم يكن فِيهِ الْأَهْلِيَّة أَن يُقَلّد فِي الْأُصُول : أَي العقائد للْإِمَام أبي الْحسن الْأَشْعَرِيّ أَو الإِمَام أبي مَنْصُور الماتريدي . 

  

"Dan wajib bagi orang yang tidak memiliki kemampuan ijtihad untuk melakukan taqlid (peniruan) dalam masalah-masalah ushul (prinsip-prinsip) - yaitu dalam keyakinan (aqidah) kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari atau Imam Abu Mansur al-Maturidi."


 لَكِن إِيمَان الْمُقَلّد مُخْتَلف فِيهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَحْكَام الْآخِرَة , أما بِالنّظرِ إِلَى أَحْكَام الدُّنْيَا فيكفيه الْإِقْرَار فَقَط .

"Namun imannya orang yang melakukan taqlid berbeda ( diperselisihkan ) dalam hal hukum-hukum akhirat, sedangkan dalam hukum-hukum dunia cukuplah baginya mengakui (menerima)."


 وَالأَصَح أَن الْمُقَلّد مُؤمن عَاص إِن قدر على النّظر . وَغير عَاص إِن لم يقدر . 

 

"Dan yang lebih benar / kuat adalah bahwa orang yang melakukan taqlid adalah seorang mukmin yang berdosa jika ia mampu untuk mempertimbangkan (ijtihad). Dan jika tidak mampu, maka ia bukan seorang yang berdosa."


ثمَّ إِن جزم بقول الْغَيْر جزما قَوِيا بِحَيْثُ لَو رَجَعَ الْمُقَلّد بِالْفَتْح لم يرجع هُوَ كَفاهُ فِي الْإِيمَان لكنه عَاص بترك النّظر إِن كَانَ فِيهِ أَهْلِيَّة النّظر


"Jika seseorang berkeyakinan kuat terhadap pendapat orang lain sehingga jika orang yg diikuti mengembalikannya dengan membuka kemungkinan lainnya, maka cukup bagi dia dalam keyakinan imannya, tetapi dia berdosa dengan meninggalkan penelitian / mengangan angan, jika dia ahli melakukan penelitian.


وَإِن لم يجْزم بقول الْغَيْر جزما قَوِيا بِأَن كَانَ جَازِمًا لَكِن لَو رَجَعَ الْمُقَلّد بِالْفَتْح لرجع هُوَ لم يكفه فِي الْإِيمَان.

"Jika seseorang tidak memastikan dengan keyakinan yang kuat bahwa pendapat orang lain itu benar-benar benar (jazm), namun jika yg diikuti kembali mengubah (pendapat) dengan alasan kembali (pada keputusan yang lebih kuat), dan dia kembali maka tidak akan cukup baginya dalam keimanan."


 وَيجب على من ذكر أَن يُقَلّد فِي علم التصوف إِمَامًا من أَئِمَّة التصوف كالجنيد وَهُوَ الإِمَام سعيد بن مُحَمَّد أَبُو الْقَاسِم الْجُنَيْد سيد الصُّوفِيَّة علما وَعَملا رَضِي الله عَنهُ

"Dan wajib bagi orang yang telah disebut untuk mengikuti seorang imam dalam ilmu tasawuf dari imam-imam tasawuf seperti Al-Junaid, yaitu Imam Sa'id bin Muhammad Abu al-Qasim al-Junaid, pemimpin tasawuf dalam ilmu dan amal, semoga Allah meridhainya."


وَالْحَاصِل أَن الإِمَام الشَّافِعِي وَنَحْوه هداة الْأمة فِي الْفُرُوع وَالْإِمَام الْأَشْعَرِيّ وَنَحْوه هداة الْأمة فِي الْأُصُول والجنيد وَنَحْوه هداة الْأمة فِي التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين.


"Yang didapat adalah bahwa Imam Asy-Syafi'i dan semacamnya adalah pembimbing umat dalam cabang-cabang ilmu, dan Imam Al-Asy'ari dan semacamnya adalah pembimbing umat dalam pokok-pokok ilmu, dan Al-Junaid dan semacamnya adalah pembimbing umat dalam tasawuf. Semoga Allah memberi mereka balasan yang baik dan memberikan manfaat kepada kita melalui mereka, amin."






MOHON DIKOREKSI DILENGKAPI

SEMOGA BERMANFAAT

Wednesday, June 26, 2024

JAMAK TAQDIM KARNA JADI MANTEN

JAMAK TAQDIM KARNA JADI MANTEN


Pelepasan TK RIYADHUL MUBTADI'IN YAYASAN IBNU SANUSI SUKAMULYA 

Deskripsi Masalah :

Biasanya sepasang pengantin melakukan resepsi pernikahan dimulai sejak Siang hingga sore hari. tetapi sepasang pengantin tersebut sudah dimake up sejak pagi,padahal resepsi pernikahan itu berlangsung sampai sore (waktu ashar). Akhirnya si pengantin putri menjamak taqdim solatnya. karna dia hawatir tidak bisa melakukan solat asar.



Pertanyaan :

Bolehkah si pengantin menjemak solat seperti permasalahan di atas?


Jawaban :

Pada dasarnya hukum jamak sholat hanya sekedar ada hajat menurut sebagian ulama' diperbolehkan. Akan tetapi yg perlu diperhatikan adalah hajat yg dimaksud bukan lah hajat yg bertentangan dengan syariat sehingga jika bertentangan dengan syariat maka dispensasi asal dari syariat tidak bisa diterapkan. Oleh kaarna itu dalam kasus sepasang pengantin yg kesulitan jika tidak menjamak sholat saat ada diatas pentas kuwade atau karna eman lipstik Dan bedak yg melekat diwajah jika mengambil wudhu' itu tidak diperbolehkan menjama' sholat sebab pada saat tersebut hajatnya tidak dibenarkan sebab bertentangan dengan syariat (mempertontonkan dirinya dihadapan banyak orang)



Referensi :

إسعاد الرفيق، 2/65)<br />

<br />

وَكَذَا مِنْ مَعَاصِي الْعَيْنِ (نَظْرُهُنَّ) أَي النِّسَاءِ (إِلَيْهِمْ) أَي إِلَى شَيْءٍ مِن بَدَنِ اَحَدٍ مِنَ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ كَذَلِكَ فِي الْأَصَحِّ &ndash;اِلَى اَنْ قَالَ&ndash; وَيَحْرُمُ عَلَيْهَا أَي عَلىَ الْمَرْأَةِ كَشْفُ شَيْئٍ مِنْ جَمِيْعِ بَدَنِهَا بِحَضْرَةِ مَنْ يَحْرُمُ نَظْرُهُ عَلَيْهَا مِنَ الرِّجَالِ الْأَجَانِبِ وَكَذَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَي الرَّجُلِ وَعَلَيْهَا أي الْمَرْأَةِ كَشْفُ شَيْئٍ مِمَّا بَيْنَ السُّرَّةِ وَ الرُّكْبَةِ لَهُ أَوْ لَهَا وَكَذَا كَشْفُهُمَا مِنْهُ أَوْ مِنْهَا بِحَضْرَةِِ شَخْصٍ مُطَّلِعٍ عَلىَ الْعَوْرَاتِ يَحْرُمُ عَلَيْهِ نَظْرُ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْكَشْفُ وَاقِعًا مَعَ حُضُورِ ذِي جِنْسٍ لِلْمَكْشُوْفِ. ( وَمِنْهَا خُرُوْجُ الْمَرْأَةِ مِنْ بَيْتِهَا مُتَعَطِّرَةً اَوْ مُتَزَيِّنَةً وَلَوْ كَانَتْ مَسْتُوْرَةً وَكَانَ خُرُوْجُهَا بِإِذْنِ زَوْجِهَا إِذَا كَانَتْ تَمُرُّ فِي طَرْيقِهَا عَلَى رِجَالٍ اَجَانِبَ عَنْهَا.<br />

<br />

(إسعاد الرفيق، 2/136)<br />

<br />

وَسُئِلَأَنَّهُ قد كَثُرَ في هذه الْأَزْمِنَةِ خُرُوجُ النِّسَاءِ إلَى الْأَسْوَاقِ وَالْمَسَاجِدِ لِسَمَاعِ الْوَعْظِ وَلِلطَّوَافِ وَنَحْوِهِ في مَسْجِدِ مَكَّةَ على هَيْئَاتٍ غَرِيبَةٍ تَجْلِبُ إلَى الِافْتِتَانِ بِهِنَّ قَطْعًا وَذَلِكَ أَنَّهُنَّ يَتَزَيَّنَّ في خُرُوجِهِنَّ لِشَيْءٍ من ذلك بِأَقْصَى ما يُمْكِنُهُنَّ من أَنْوَاعِ الزِّينَةِ وَالْحُلِيِّ وَالْحُلَلِ كَالْخَلَاخِيلِ وَالْأَسْوِرَةِ وَالذَّهَبِ التي تُرَى في أَيْدِيهِنَّ وَمَزِيدِ الْبَخُورِ وَالطَّيِّبِ وَمَعَ ذلك يَكْشِفْنَ كَثِيرًا من بَدَنِهِنَّ كَوُجُوهِهِنَّ وَأَيْدِيهِنَّ وَغَيْرِ ذلك وَيَتَبَخْتَرْنَ في مِشْيَتِهِنَّ بِمَا ل

Kalau di ibarot diatas itu jika ada hajat saja, dan tidak menjadi suatu kebiasaan 😁

Untuk sholat jama'nya dalam kitab

[ المجموع شرح المهذب الجزء الرابع صحـ 384

(فرع) في مذاهبهم في الجمع في الحضر بلا خوف ولا سفر ولا مطر ولا مرض: مذهبنا ومذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد والجمهور: أنه لا يجوز. وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب. قال وجوزه ابن سيرين لحاجة أو ما لم يتخذه عادة

[Dalam keterangan kitab dibawah ini

: بغية المسترشدين صحـ 127

فائدة: صلى الظهر ثم أعادها مع جماعة جاز تقديم العصر معها حينئذ بشرطه، قاله عبد الله بن أحمد مخرمة وخالفه ابن حجر فرجح عدم الجواز. فائدة: لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي، وظاهر الحديث جوازه ولو في حضر كما في شرح مسلم، وحكى الخطابي عن أبي إسحاق جوازه في الحضر للحاجة، وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض، وبه قال ابن المنذر اهـ قلائد. وعن الإمام مالك رواية أن وقت الظهر يمتد إلى غروب الشمس، وقال أبو حنيفة: يبقى إلى أن يصير الظل مثلين ثم يدخل العصر، ذكره الردّاد، وكان سيدنا القطب عبد الله الحداد يأمر بعض بناته عند اشتغالها بنحو مجلس النساء بنية تأخير الظهر إلى وقت العصر.

Tuesday, June 25, 2024

SHOLAT JANAZAH PART 14 ( MATI SYAHID)

BAROKAH NGAJI KIYAI SHOLIHIN

TERJEMAH FATHUL MU'IN

SHOLAT JANAZAH 

PART 14


MATI SYAHID


وَ( عَلٰی شَهِيْدٍ ) وَهُوَ بِوَزْنِ فَعِيْلٍ بِمَعْنَی

 مَفْعُوْلٍ، لِأَنَّهُ مَشْهُوْدٌ لَهُ بِالْجَنَّةِ، أَوْ فَاعِلٍ، لِأَنَّ رُوْحَهُ تَشْهَدُ الْجَنَّةَ قَبْلَ غَيْرِهِ.

Definisi Syahīd

Haram menshalati jenazah orang yang mati syahīd📚. Lafazh (شَهِيْدٍ) ikut wazan (فَعِيْلٍ) yang berma‘na maf‘ūl sebab ia akan disaksikan masuk surga📒. Atau ikut wazan: (فَاعِلٍ) karena nyawanya menyasikan surga sebelum nyawa orang lain. 

---------------

📚

أي وتحرم الصلاة على الشهيد، لما صح أنه - صلى الله عليه وسلم - أمر في قتلى أحد بدفنهم بدمائهم، ولم يغسلهم، ولم يصل عليهم.

"Dan sholat dilarang / haram atas seorang syahid, karena ada hadis shahih bahwa Nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- memerintahkan pada korban Perang Uhud untuk dikuburkan dengan darah mereka, tanpa dimandikan dan tanpa dishalatkan.


وأما خبر: أنه - صلى الله عليه وسلم - خرج فصلى على قتلى أحد صلاته على الميت زاد البخاري بعد ثمان سنين فالمراد - كما في المجموع - دعا لهم كدعائه للميت، والإجماع يدل له.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- keluar dan menshalati korban Perang Uhud seperti sholatnya atas jenazah, Al-Bukhari menambahkan setelah delapan tahun, maka yang dimaksud -sebagaimana dalam kitab Al-Majmu'- adalah beliau berdoa untuk mereka seperti doanya untuk jenazah, dan ijma' menunjukkan hal tersebut."


📒

وقيل لأنه يبعث، وله شاهد بقتله إذ يبعث، وجرحه يتفجر دما.

Dan dikatakan: Karena dia akan dibangkitkan, dan ada saksi atas pembunuhannya saat dia dibangkitkan, serta lukanya mengeluarkan darah.


وقيل: لأن ملائكة الرحمة يشهدونه فيقبضون روحه.

Dan dikatakan: Karena malaikat rahmat menyaksikannya dan mengambil nyawanya.


Ianah Tholibin juz 2 hal 135

Nurul ilmi

---------------


 وَ يُطْلَقُ لَفْظُ الشَّهِيْدِ عَلَى مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ شَهِيْدُ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ. 


Lafazh (الشَّهِيْدِ) diucapkan pada orang yang berperang menjunjung tinggi agama Allah📖 dan orang ini disebut syahīd dunia-akhirat,

---------------

📖

المراد بها كلمة التوحيد والدعوة إلى الإسلام.

Yang dikehendaki dengan kalimat Allah adalah kalimat tauhid, da,wah ke agama islam


Ianah Tholibin juz 2 hal 136

Nurul ilmi

----------------


وَ عَلَى مَنْ قَاتَلَ لِنحْوِ حَمِيَّةٍ، فَهُوَ شَهِيْدُ الدُّنْيَا.

juga dapat diterapkan pada orang yang berperang bukan untuk membela agam Allah (tapi untuk tujuan lain) 📗 dan orang ini disebut “syahīd dunia”📝. 

-------------

📗

 أي لقومه، ودخل تحت لنحو: من قاتل للرياء، أو للغنيمة، أو نحو ذلك.

 Untuk kaumnya, dan termasuk juga dalam kategori ini: orang yang berperang untuk riya, atau untuk harta rampasan perang, atau hal-hal semacam itu.

 

 📝

 أي فتجري عليه أحكام الشهادة الدنيوية، من كونه لا يغسل ولا يصلى عليه.

 Sehingga berlaku padanya hukum-hukum syahid di dunia, seperti tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.

 

Ianah Tholibin juz 2 hal 136

Nurul ilmi

--------------

 وَ عَلَى مَقْتُوْلٍ ظُلْمًا وَ غَرِيْقٍ، وَ حَرِيْقٍ، وَ مَبْطُوْنٍ أَيْ مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ كَاسْتِسْقَاءٍ أَوْ إِسْهَالٍ. فَهُمُ الشُّهَدَاءُ فِي الْآخِرَةِ فَقَطْ.


Juga bisa diterapkan untuk orang yang terbunuh akibat suatu kezhāliman ✅yang menimpanya, orang yang mati sebab tenggelam💖, terbakar📇 dan akibat penyakit perut, misalnya muntah atau diare, dan orang-orang seperti ini dinamakan “syahīd akhirat” (50) 

---------------

خرج به ما إذا كان مقتولا بحق - كأن كان لقصاص - فلا يكون شهيدا.

Dikecualikan dari hukum ini adalah jika seseorang dibunuh dengan hak, seperti karena qisas, maka dia tidak dianggap sebagai syahid.

💖


(لطيفة) حكي أن شخصا نزل هو ومحبوبه يسبحان في البحر، فغرق محبوبه، فأشار إلى البحر وأنشد وقال:

(Latifa)

 Dikisahkan bahwa seseorang dan kekasihnya turun ke laut untuk berenang, lalu kekasihnya tenggelam. Dia menunjuk ke laut dan melantunkan syair:

 

ياماء: لك قد أتيت بضد ما * * قد قيل فيك مخبرا بعجيب؟ 

 "Wahai air: kamu telah datang dengan kebalikan dari apa yang * 

 * telah dikatakan tentangmu dengan hal yang mengherankan?

 * 

الله أخبر أن فيك حياتنا * * فلاي شئ مات فيك حبيبي؟ 

Allah memberitahukan bahwa di dalam dirimu terdapat kehidupan kami * * maka mengapa kekasihku mati di dalam dirimu?"


فلما قال ذلك أحياه الله تعالى، وطلع له من البحر


"Setelah dia mengucapkan hal itu, Allah SWT menghidupkan kekasihnya kembali, dan dia muncul dari laut.


📇

 (قوله: وحريق) أي ويطلق لفظ الشهيد على حريق، أي محروق بالنار.

(Perkataan mushonef: Dan yang terbakar) artinya istilah syahid juga digunakan untuk orang yang terbakar, yaitu yang mati terbakar oleh api.


فتجرى عليهم أحكام غير الشهيد، من الغسل، والصلاة، وغير ذلك.

50. Maka berlaku pada mereka hukum selain syahid, seperti dimandikan, dishalatkan, dan lain sebagainya.


Ianah Tholibin juz 2 hal 136

Nurul ilmi


---------------


(كَغَسْلِهِ) أَيِ الشَّهِيْدِ، وَ لَوْ جُنُبًا، لِأَنَّهُ لَمْ يَغْسِلْ قَتْلَى أُحُدٍ. وَ يَحْرُمُ إِزَالَةُ دَمِ شَهِيْدٍ.


Begitu juga hukum memandikan orang yang mati syahīd adalah haram sekalipun masih dalam keadaan junub📚 sebab Nabi s.a.w. tidak memandikan orang-orang yang mati dalam perang Uhud📑. Haram menghilangkan darah orang yang mati syahīd.📒

-------------

📚

أي يحرم غسله ولو كان جنبا، لأن حنظلة بن الراهب قتل يوم أحد وهو جنب، ولم يغلسه النبي - صلى الله عليه وسلم -، وقال: رأيت الملائكة تغسله.

رواه بن حبان والحاكم في صحيحهما.


Diharamkan untuk memandikan orang yg mati syahid meskipun dalam keadaan junub, karena Handhalah bin Ar-Rahib terbunuh pada perang Uhud dalam keadaan junub, dan Nabi - shallallahu 'alaihi wasallam - tidak memandikannya. Beliau bersabda: "Aku melihat para malaikat memandikannya."


📑

ولما رواه الإمام أحمد أنه - صلى الله عليه وسلم - قال: لا تغسلوهم، فإن كل جرح أو كلم أو دم يفوح مسكا يوم القيامة.

Dan karena adanya hadis yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah - shallallahu 'alaihi wasallam - bersabda: "Jangan mandikan mereka, karena setiap luka atau darah akan mengeluarkan bau harum seperti misik pada hari kiamat."


وحكمة ذلك أيضا: إبقاء أثر الشهادة عليهم، والتعظيم لهم باستغنائهم عن التطهير.

Dan hikmah dari hal itu juga adalah untuk mempertahankan bekas Kesyahidan pada mereka, serta memuliakan mereka dengan tidak memerlukan penyucian.


📒

والمراد بالدم الذي يحرم إزالته: الخارج من المقتول نفسه، بخلاف ما لو طرأ عليه من غيره، فإنه يزال - كالنجاسة - ولو أدى إلى


زوال دم الشهادة معه.


Dan yang dimaksud dengan darah yang haram dihilangkan adalah darah yang keluar dari tubuh orang yang terbunuh itu sendiri, berbeda halnya jika darah itu datang dari luar / selainya, maka darah tersebut boleh dihilangkan seperti halnya najis, meskipun hal itu menyebabkan hilangnya darah syahid bersamanya.


Ianah Tholibin juz 2 hal 136

Nurul ilmi

----------------


(وَ هُوَ مَنْ مَاتَ فِيْ قِتَالِ كُفَّارٍ) أَوْ كَافِرٍ

 وَاحِدٍ، قَبْلَ انْقِضَائِهِ، وَ إِنْ قُتِلَ مُدْبِرًا (بِسَبَبِهِ) أَيِ الْقِتَالُ

 Syahid adalah orang yang gugur 📒di medan perang melawan orang-orang kafir atau seorang raja sebelum peperangan selesai – sekalipun terbunuh waktu mundur dari musuh – , yang matinya sebab peperangan tersebut.

 --------------

 📒

 (واعلم) أنه ذكر قيدين للشهيد، وهما: كون الموت حال المقاتلة، وكونه بسبب القتال، وبقي قيد ثالث، وهو: أن يكون القتال حلله العلماء.

Dan ketahuilah bahwa telah disebutkan dua syarat bagi syahid, yaitu: kematian saat bertempur, dan kematian disebabkan oleh pertempuran, serta ada syarat ketiga, yaitu: pertempuran tersebut dihalalkan oleh para ulama.


وخرج بالقيد الأول من مات بعد المقاتلة، فإن فيه تفصيلا سيذكره في قوله: ولا من مات بعد انقضائه إلخ.

Dengan syarat pertama, dikecualikan orang yang meninggal setelah pertempuran, karena dalam hal ini terdapat rincian yang akan disebutkan dalam perkataan: "dan tidak termasuk orang yang meninggal setelah pertempuran selesai, dll.


وبالقيد الثاني من مات لا بسبب القتال - كأن مات في حال المقاتلة بمرض أو فجأة - أي بغتة.


"Dengan syarat kedua, dikecualikan orang yang meninggal bukan karena pertempuran - seperti orang yang meninggal saat pertempuran karena penyakit atau Sakit yg tiba-tiba - yaitu secara mendadak.


وبالقيد الثالث: من مات في قتال محرم، كقتال المسلم ذميا، فلا يسمى شهيدا.


Dengan syarat ketiga, dikecualikan orang yang meninggal dalam pertempuran yang haram, seperti pertempuran seorang Muslim melawan seorang dzimmi (non-Muslim yang berada di bawah perlindungan negara Islam), maka orang tersebut tidak disebut syahid.


وقد ذكر المؤلف بعض أفراد هذه المحترزات، كما ستعرفه.


Penulis telah menyebutkan beberapa individu dari pengecualian ini, sebagaimana akan diketahui.


Ianah Tholibin juz 2 hal 137

Nurul ilmi

---------------


MOHON DIKOREKSI DILENGKAPI

SEMOGA BERMANFAAT

Sunday, June 23, 2024

APAKAH MAHAR ITU HARUS BERUPA UANG? BAGAIMANAKAH PENJELASAN MAHAR ITU?

 

بِسۡـــــــــمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيم


 



Apa definisi mahar(bahasa dan istilah).

Serta apakah mahar itu ada syarat,ketentuan dan kriteria nya?


_Kata mahar berasal dari bahasa Arab yaitu al-mahr, jamaknya al-muhur atau al-muhurah. Menurut bahasa, kata al-mahrbermakna al-shadaq yang dalam bahasa Indonesia lebih umum dikenal dengan “maskawin”, yaitu pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri ketika berlangsungnya acara akad nikah diantara keduanya untuk menuju kehidupan bersama sebagai suami istri._


_Lebih lanjut dalam kitab Subul al-Salam Syarh Bulug al-Maram menjelaskan bahwa mahar mempunyai delapan nama sebagai berikut:_


_الصداق له ثمانية أسماء يجمعها قوله صداق و مهر نحلة و فريضة حباء و أجر ثم عقر علائق_


_Mahar mempunyai delapan nama yang dinadzamkan dalam perkataannya: shadaq, mahar, nihlah, faridhah, hiba’, ujr, ’uqr, ‘alaiq”_


_Dalam kamus al-Munjid, kata mahar dapat dilihat dalam berbagai bentuknya:_


_(مَهَرَ : مَهْراً و مُهُوْراً وَ مَهاَراً وَ مَهَارَةً _


_ yang artinya  tanda  pengikat._


_Abdurrrahman al-Jaziri, maskawin adalah nama suatu benda yang wajib diberikan oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang disebut dalam akad nikah sebagai pernyataan persetujuan antara pria dan wanita itu untuk hidup bersama sebagai suami istri._


_Imam Taqiyuddin, maskawin (shadaq) ialah sebutan bagi harta yang wajib atas orang laki-laki bagi orang perempuan sebab nikah atau bersetubuh (wathi'). Di dalam al-Qur’an maskawin disebut: shadaq, nihlah, faridhah dan ajr. Dalam sunnah disebut: mahar, ‘aliqah dan ‘aqr._


_Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mahar merupakan suatu kewajiban yang harus dipikul oleh setiap calon suami yang akan menikahi calon istri sebagai tanda persetujuan dan kerelaan untuk hidup bersama sebagai suami istri, jadi mahar itu menjadi hak penuh bagi istri yang menerimanya, bukan hak bersama dan bukan pula hak walinya, tidak ada seorangpun yang berhak memanfaatkannya tanpa seizin dari perempuan itu_


_Tidak ada ketentuan syara' dalam ukuran maksimal atau minimal jumlah mahar, yang menjadi pertimbangan dalam kadarnya adalah kerelaan dan kesepakatan sepasang calon suami istri meski kadarnya kemudian dianggap lebih rendah atau lebih tinggi dari kadar mahar mitsil namun yang paling baik ukurannya adalah yang sewajarnya._


_Selangkapnya_


_فَصْلٌ : فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّ أَقَلَّ الْمَهْرِ وَأَكْثَرَهُ غَيْرُ مُقَدَّرٍ ، فَهُوَ مُعْتَبَرٌ بِمَا تَرَاضَى عَلَيْهِ الزَّوْجَانِ مِنْ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ ، وَسَوَاءٌ كَانَ أَكْثَرَ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ أَوْ أَقَلَّ ، إِذَا كَانَتِ الزَّوْجَةُ جَائِزَةَ الْأَمْرِ . فَإِنْ كَانَتْ صَغِيرَةً زَوَّجَهَا أَبُوهَا هل يجوز أَنْ يُزَوِّجَهَا بِأَقَلَّ مِنْ مَهْرِ مِثْلِهَا ، لَمْ يَجُزْ أَنْ يُزَوِّجَهَا بِأَقَلَّ مِنْ مَهْرِ مِثْلِهَا : لِأَنَّهُ مُعَاوِضٌ فِي حَقِّ غَيْرِهِ فَرُوعِيَ فِيهِ عِوَضُ الْمِثْلِ كَمَا يُرَاعَى فِي بَيْعِهِ لِمَالِهَا ثَمَنُ الْمِثْلِ ، وَإِنْ لَمْ يُرَاعِ ذَلِكَ فِي بَيْعِهَا لِنَفْسِهَا . وَالْأَوْلَى أَنْ يَعْدِلَ الزَّوْجَانِ عَنِ التَّنَاهِي فِي الزِّيَادَةِ الَّتِي يَقْصُرُ الْعُمُرُ عَنْهَا ، وَعَنِ التَّنَاهِي فِي النُّقْصَانِ الَّذِي لَا يَكُونُ لَهُ فِي النُّفُوسِ مَوْقِعٌ ، وَخَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَاطُهَا . وَأَنْ يُقْتَدَى بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُهُورِ نِسَائِهِ طَلَبًا لِلْبَرَكَةِ فِي مُوَافَقَتِهِ ، وَهُوَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ عَلَى مَا رَوَتْهُ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا . وَقَدْ جَعَلَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ مُهُورَ الشَّرِيفَاتِ مِنْ نِسَاءِ قَوْمِهِ أَرْبَعَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ : اقْتِدَاءً بِصَدَاقِ أُمِّ حَبِيبَةَ . وَقَدْ رَوَى مُجَاهِدٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُهُنَّ أَيَسَرُهُنَّ صَدَاقًا . وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَحْسَنُهُنَّ وَجْهًا وَأَقَلُّهُنَّ مَهْرًا_

TRADISI KHUTBAH PEGANG TONGKAT

 TRADISI KHUTBAH PEGANG TONGKAT


Masjid² kalangan Nahdatul Ulama, ketika khutbah jumat, khatib memegang tongkat ketika berdiri di atas mimbar. Ini adalah salah satu ciri khas masjid Nahdatul Ulama, tentunya akan membedakan dengan masjid² kalangan lain. 


Tradisi pegang tongkat saat khutbah Jum'at atau hari raya, bagi yg tidak sependapat selalu mempersoalkannya, mencemooh bahkan tidak mau sholat Jumat di masjid yg ada tongkatnya. Alasan mereka, katanya hal tersebut tidak ada dalil yg membenarkan. 


Bagi kalangan kita, perbedaan pendapat sudah biasa jika terkait dengan persoalan khilafiyah hukum dan tanawwu' dalam ibadah. Jikalau mau terbuka untuk tidak antipati duluan, dengan membuka literatur para ulama fiqih, insya Allah akan membuka pola pikirnya, minimal tidak menyalahkan atau menuduh sesat. Ternyata, memegang tongkat ketika khatib berdiri di atas mimbar Jumat, adalah memiliki dalil² yg kuat dan terpercaya. Termasuk pendapat dari kalangan ulama 4 madzhab.


Mayoritas ulama’ Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah menganjurkan berkhutbah dgn memegang tongkat, berdasarkan hadits diatas. Berbeda dgn ulama madzhab Hanafi, yg berpendapat hal itu makruh, karena berbeda dengan sunnah. Sebagaimana keterangan Imam Burhanuddin Abu Al-Ma’ali Mahmud bin Ahmad bin Abdul Aziz ibn Mazah al-Bukhari Al-Hanafi atau Imam Ibnu Mazah rahimahullah (wafat 616 H / 1219 M di Uzbekistan) dalam Kitab Al-Muhith Al-Burhani Fi Al-Fiqhi An-Nu’mani sbg berikut :


وكذلك إذا خطب متكئاً على عصا أو على قوس جاز، إلا أنه يكره، لأنه خلاف السنّة


“Demikian itu harus (dibolehkan), apabila (khatib) berkhutbah memegang pada tongkat atau pada panah, melainkan ia makruh karena berbeda dengan sunnah”. (2/75. Beirut : Dar Al-Kutub Al-‘Imiyyah, 1424 H).


Ulama Wahabi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitab Ad-Durusul Fiqhiyyah, menyatakan bukan sunnah.


Sejak dahulu, masalah ini adalah ruang khilafiyyah yg mu'tabar. Setiap pihak mempunyai alasan dan sisi pandang masing². Maka, siapa yang ingin memegang tongkat atau panah atau seumpamanya, maka dia boleh melakukannya. Ini sunnah oleh sebagian besar ulama. Dan siapa yg berpendapat bukan sunnah, maka dia tidak perlu melakukannya. Tiada kesalahan dalam hal ini. Mari saling menghormati atas ragam pendapat para ulama. Janganlah bernafsu untuk ingin menang sendiri merasa paling benar. Jika anda ulama, pasti faham perbedaan dan cara menyikapinya, sebagaimana teladan para ulama Salafus sholih.


Secara historis, bahwa tongkat atau tombak pada masa Rasulullah sebagai sunah yang dianjurkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, hingga rasul selalu memegang tongkat yg biasanya ukurannya pendek atau terkadang panjang. Sebagian berpendapat bahwa tongkat (tombak) adalah sebagai senjata untuk melindungi diri, karena ketika sedang khutbah dan diserang musuh akan mudah dapat melakukan pembelaan diri, karena senjata telah ada ditangan, hal ini juga logis ketika ada anjuran juga menggunakan pedang.


Bahkan jumhurul ulama' (mayoritas ulama) fikih mengatakan, bahwa sunnah hukumnya khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya, pada saat membaca khutbah. Sebagaimaba dijelaskan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (wafat 820 M di Fustat Mesir) di dalam kitab Al-Umm, sebagai berikut : 


 قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا.


Imam Asy-Syafi'i rahimahullah ta'ala berkata : Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yg mengatakan, beliau berkhutbah dgn memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda² itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi' mengabarkan dari Imam Syafi'i dari Ibrahim, dari Laits dari 'Atha', bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya, untuk dijadikan pegangan". (Kitab Al-Umm, juz I, halaman : 272).


عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قُلْتُ لِعَطَاءٍ: أَكَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْمُ إِذَا خَطَبَ عَلىَ عَصًا ؟ قَالَ: نَعَمْ كَانَ يَعْتَمِدُ عَلَيْهَا اِعْتِمَادًا.


“Dari Abdul Malik ibn Abdul Aziz ibn Juraij atau Imam Ibnu Juraij rahimahullah (wafat 767 M Jannatul Ma'la Mekkah) : “Aku berkata kepada ‘Atha’ Bin Abi Rabah Al-Makki rahimahullah (wafat 733 M di Jannatul Ma'la Mekkah) : “Apakah Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila berkhutbah selalu berdiri pada tongkat ?” Ia menjawab : “Ya. beliau selalu berpegangan pada tongkat". (HR. Imam Abdur Razzaq Ash-Shan'ani rahimahullah wafat 827 M di Shana'a Yaman dan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam Kitab Al-Umm juz 1 halaman 177).


 عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ


Dari Syu'aib bin Zuraidj Ath-Tha'ifi Radhiyallahu Anhu, ia berkata : 'Kami menghadiri shalat Jumat pada suatu tempat, bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Maka, beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur". (HR. Imam Abu Dawud rahimahullah wafat 889 M di Basrah Irak).


Hadits di atas, di komentari oleh Imam As Shan’ani rahimahullah (wafat 1768 M di Shana'a Yaman) dalam Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, bahwa hadits itu menjelaskan tentang sunnahnya khatib Jumat memegang pedang atau semacamnya, pada waktu menyampaikan khutbahnya. (Kitab Subulus Salam, juz II, halaman : 59).


Imam Abu Abdullah Muhammad bin Sa'ad bin Mani' Al-Bashri Al-Hasyimi atau Imam Ibnu Sa’ad rahimahullah (wafat 16 Februari 845 M, Baghdad, Irak) menerangkan dalam Kitab Ath-Tahabaqat Al-Kabir, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memegang tongkat dalam khutbah²nya, menyebutkan hadits berikut :


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ وَبِيَدِهِ مِخْصَرَةٌ.


“Dari Abdullah bin Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu (wafat 692 M, Jannatul Ma'la Mekkah), bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menyampaikan khutbah, sedangkan di tangan beliau memegang tongkat". (HR. Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas'ud bin Muhammad Al-Farra Al-Baghawi Asy-Syafi'i atau Imam Al-Baghawi rahimahullah wafat 1122 M di Iran, dalam Kitab Syarhus Sunnah :1070, Imam Muhammad Tammam Ar-Razi rahimahullah wafat 414 H / 1023 M, dalam Kitab Al-Fawaid : 650).


Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi'i Al-Asy'ari rahimahullah (wafat 1111 M di Thus Iran) mengatakan :


فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ


"Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama'ah, dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yg ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yg satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yg satu dengan yg lain. (Kitab Ihya' 'Ulumiddin, juz I, halaman : 180).


Imam Al-Khatib As Syarbini Asy-Syafi'i Al-Asy'ari Al-Mishri rahimahullah (wafat 977 H / 1570 M di Kairo Mesir) dalam Kitab Mughnil Muhtaj, menambahkan keterangan diantara hikmah berkhutbah dengan memegang tongkat, adalah isyarat bahwa Islam adalah agama yg tegak dan diperjuangkan dengan banyak pengorbanan. Sehingga, umat Islam harus senantiasa kuat dan waspada, dari berbagai ancaman luar, serta senantiasa mempersiapkan jasmani dan rohani yg kuat guna membela Islam.


Hikmah tersebut hampir sama dijelaskan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi'i Al-Makki rahimahullah (wafat 1566 M di Jannatul Ma'la Mekkah) di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Bi Syarhil Minhaj.


Jelas diterangkan diatas bahwa ada hikmah dianjurkannya memegang tongkat ketika khutbah yaitu untuk mengikat hati (agar lebih khusyuk dan konsentrasi) dan tidak mempermainkan tangannya. Serta mengikuti jejak Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Intinya, seorang khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah. 


Wallahu a’lam bish shawab. Semoga bermanfaat !!

BOLEHKAH MAHAR NIKAH DENGAN HAFALAN AL QURAN?

 

BOLEHKAH MAHAR NIKAH DENGAN HAFALAN AL QURAN?

________________________________________

Soal:

Bagaimanakah pandagan Islam (fikih) terkait mahar berupa hafalan Akquran. Mengingat ketentuan mahar harus sesuatu yang berharga atau menfaat yang kembali pada mempelai wanita?


Jawab:


Mahar nikah berupa hafalan al Quran diperbolehkan dan sah dengan ketentuan berikut :


1. Apabila yang membacakan Al-Qur'an dalam rangka mengajari Al-Quran pada sang istri maka maskawin baca Al-Qur'an tersebut sah / boleh.


2. Jika membacakan ayat tersebut dapat memberi faedah kepada calon istri (contoh, calon istri paham artinya sehingga dapat mengambil faedah dari maknanya ayat yang di baca, seperti halnya istri dapat mengetahui hukum dari ayat yang dibaca dsb) maka dalam keadaan ini maskawin tersebut juga sah / boleh.


3. Jika tidak seperti penjelasan di atas (hanya membacakan disampingnya saja) maka maskawin tersebut tidak sah. Sehingga jika hanya sekedar hafalan saja, tidak ada manfaat yang bisa diambil oleh sang istri seperti mengajari sang istri dengan hafalan tersebut, maka tidak sah.


Rerefensi:


•حاشية الباجوري (II/126)

ويجوز ان يتزوجها علي منفعة معلومة كتعليم القرأن.... ولا فرق لتعليم القرأن بين ان يكون لكله كما هو ظاهره او لسور معينة منه كالفاتحة وغيرها او لقدر معين من سورة معينة كربع من سورة يس وان كانت تعريفه.


•قرة الين بفتوى الشيخ إسماعيل، ص 162 :

ﻣﺎ ﻗﻮﻟﻜﻢ ﺳﻴﺪﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﻤﻬﺮ ﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻓﻬﻞ ﻳﺼﺢ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺍﻭﻼ ﻓﺎﻟﺠﻮﺍﺏ ﺍﻥ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻭة ﺻﺤﻴﺢ ﺛﻢ ﺍﺫﺍ ﻭﻗﻊ ﺑﻤﻬﺮ ﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻓﺎﻥ ﺍﺭﻳﺪ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻬﺎ ﺍﻗﺮﺃﻫﺎ ﺍﻳﺎﻫﺎ ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﻬﺎ ﺍﻳﺎﻫﺎ ﻓﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺻﺤﻴﺢ. ﻓﺎﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﺎ ﺍﻳﺎﻫﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﺗﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻦ ﻗﺮﺃﺗﻬﺎ ﻭﻛﺬﺍ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻛﺎﺳﻤﺎﻋﻬﺎ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻧﺒﻮﻳﺎ ﻟﺘﺴﺘﻔﻴﺪ ﻣﻨﻪ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺣﻜﻢ ﺃﻭ ﺗﺰﻏﻴﺒﺎ ﺍﻭ ﺗﺮﻫﻴﺒﺎ ﻭﻛﺎﺳﻤﺎﻋﻬﺎ ﺑﻌﺾ ﺍﻸﺷﻌﺎر ﺍﻟﻤﺘﻀﻤﻨﺔ ﻟﻠﺰﻫﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻸﺧﺮة ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺼﻞ ﺍﻟﻰ ﺫﻫﻨﻬﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﻭﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻣﻦ ﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺑﻘﺼﺪ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﺎ ﺃﻭ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﻣﻦ ﺷﺮﻃﺘﻪ ﻫﻲ ﻛﻮﻟﺪﻫﺎ ﻭﻋﺒﺪﻫﺎ ﻭﻛﺬﺍ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺍﺳﺘﻔﺎﺩﺗﻬﺎ ﻣﻦ ﻗﺮﺃﺓ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺃﻥ ﻓﻴﺠﺐ ﻟﻬﺎ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻷﻥ ﻣﺠﺮﺩ ﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺑﺤﻀﺮﺗﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﺗﺴﻤﻊ ﻻ ﻳﻮﺻﻞ ﺍﻟﻴﻬﺎ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻬﺮﺍ ﻭﺇﺫﺍ ﻓﺴﺪ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﺍﻟﻤﺴﻤﻰ ﻓﺎﻟﻤﺮﺟﻮﻉ ﺍﻟﻴﻪ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ.


•حاشية الجمال (17/237) :

حاشية الجمل للشيخ سليمان بن عمر الجمل (المتوفى : ١٢٠٤هـ) ج ١٧ ص ٢٣٧ ما نصه : ( قوله بما لا يتمول ) أي لا يعد في العرف مالا وإن كان مالا في نفسه.


•حاشية إعانة الطالبين للشيخ أبي بكر ابن السيد محمد شطا الدمياطي (4/396) 

ما نصه:( قوله وما صح كونه ثمنا الخ ) هذه في المعنى قضية شرطية صورتها وكل ما صح جعله ثمنا صح جعله صداقا والذي يصح جعله ثمنا هو الذي وجدت فيه الشروط السابقة في باب البيع من كونه طاهرا منتفعا به مقدورا على تسلمه مملوكا لذي العقد وقوله صح كونه صداقا أي في الجملة فلا يرد ما لو زوج عبده لحرة وجعل رقبته صداقا لها فإنه يصح مع صحة جعله ثمنا لأنه منع منه هنا مانع وهو أنه لا يجتمع الملك والنكاح لتناقضهما ( قوله وإن قل ) غاية لقوله ما صح كون ثمنا أي كل ما صح أن يكون ثمنا ولو قليلا يصح كونه صداقا ولا حاجة إلى تقييد القلة بأن لا تنتهي إلى حد لا يتمول لانه حينئذ لا يصح كونه ثمنا فهو خارج من موضوع المسألة.


•فتح الباري شرح صحيح البخارى حديث رقم ٤٨٥٤ :

قوله ( اذهب فقد أنكحتكها بما معك من القرآن ) في رواية زائدة مثله ، لكن قال في آخره " فعلمها من القرآن " وفي رواية مالك " قال له قد زوجتكها بما معك من القرآن " ومثله في رواية الدراوردي عن إسحاق بن راهويه ، وكذا في رواية فضيل بن سليمان ومبشر ، وفي رواية الثوري عند ابن ماجه " قد زوجتكها على ما معك من القرآن " ومثله في رواية هشام بن سعد وفي رواية الثوري عند الإسماعيلي " أنكحتكها بما معك من القرآن " وفي رواية الثوري ومعمر عند الطبراني " قد ملكتكها بما معك من القرآن " ، وكذا في رواية يعقوب وابن أبي حازم وابن [ ص: ١١٧ ] جريج وحماد بن زيد في إحدى الروايتين عنه ، وفي رواية معمر عند أحمد " قد أملكتكها " والباقي مثله ، وقال في أخرى " فرأيته يمضي وهي تتبعه " وفي رواية أبي غسان " أمكناكها " والباقي مثله ، وفي حديث ابن مسعود " قد أنكحتكها على أن تقرئها وتعلمها ، وإذا رزقك الله عوضتها ، فتزوجها الرجل على ذلك فتح الباري شرح صحيح البخاري.


Wallahu a'lam bisshowab.

 
Copyright © 2014 anzaaypisan. Designed by OddThemes